pkl-malioboro-harus-legawa-menghadapi-perubahanLokasi pengganti untuk PKL yang sebelumnya berjualan di sepanjang Jalan malioboro (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)


Muhammad Zukhronnee Muslim
PKL Malioboro Harus Legawa Menghadapi Perubahan

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Selepas seremoni difungsikannya bangunan bekas Bioskop Indra menjadi lokasi pengganti bagi pedagang kaki lima (PKL) Malioboro oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, tampak dua perempuan paruh baya bergegas menaiki tangga Teras Malioboro 1.


Tak sabar mereka menuju lantai tiga sisi utara yang rencananya diperuntukkan sebagai pengganti lahan berjualan mereka sebelumnya. Setibanya di lokasi lapak, keduanya tampak membentang-bentangkan tangan seperti sedang mengukur luas yang dibutuhkan untuk siap berjualan. Raut kekecewaan tak bisa disembunyikan dari kedua perempuan ini.


Kepada koranbernas.id mereka mengaku bingung setelah pindah akan seperti apa memajang dagangan dan kembali berjualan. Lapak yang jauh-jauh lebih kecil dari sebelumnya membuat mereka harus berpikir keras memanfaatkannya secara maksimal.

"Sebenarnya kami termasuk yang tidak keberatan untuk pindah ke sini. Tapi kesiapan lapak terutama gudang untuk menyimpan stok dagangan kami harap segera dipenuhi," ujar Vero, salah seorang pedagang sepatu yang sebelumnya berjualan di Jalan Mataram.


"Tempat berjualan sebelumnya 3 x 3 meter persegi itu pun hanya untuk pajangan, sekarang dapat lapak yang hanya berukuran 1,5 meter x 1 meter. Akan sangat banyak stok sepatu yang tidak bisa didisplai, padahal gudang penyimpanan juga belum ada. Nggak mungkin kami simpan di rumah, repot kalau pembeli nyari variasi ukuran atau warna yang tidak ada di sini," ujarnya sambil membuka loker bagian bawah setiap lapak.

Misalnya, kata dia, apabila mendapat gudang kosong pun dia dan 19 pedagang sepatu lainnya siap melakukan penyekatan sendiri. “Meskipun demikian, jika sudah disekatkan ya kami lebih senang. Loker ini aja paling hanya bisa menyimpan 20 pasang sepatu, apalagi sepatu harus disimpan bersama kardusnya. Mumet, karena nggak sesuai dengan kebutuhan pedagang," lanjutnya.

Vero menambahkan, alur pengunjung juga harus sangat diperhatikan, dengan tata letak lapak yang ada sekarang, sudah terbayang betapa sulitnya berjualan. Sesama kelompok pedagang sepatu terlalu dekat dan terbuka.

"Susah untuk nyang-nyangan (tawar-menawar harga) kalau seting tempat seperti ini, Persaingan sesama penjual pun semakin terang-terangan. Ini cuman seperti pameran," kata dia.

Ani, sahabat Vero yang ikut mengamati lapak baru Teras Malioboro 1 sore itu menambahkan, pandemi sudah membuat usaha berjualan yang ditekuni sejak tahun 70-an ini menurun drastis.

Walau tidak menolak relokasi, seperti pedagang kaki lima lainnya dia memiliki kekhawatiran kepindahan ini membuat dagangan semakin sepi.

Hujan deras yang mengguyur Kota Yogyakarta sore itu menambah kekhawatiran Ani. Tampias yang cukup intens ternyata membasahi lapak-lapak di lantai 3 Teras Malioboro 1.

"Ini harus kita laporkan ke pengelola. Jika tidak, bukan tidak mungkin hujan akan merusak dagangan milik pedagang di lantai tiga," kata dia.

Kios PKL Malioboro terbuat dari kayu dan besi, terlihat lebih rapi. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

Legawa

Berbeda dengan suasana lantai tiga, kelompok penjaja kuliner yang rencananya direlokasi di sisi utara merasa cukup dengan fasilitas yang akan diterimanya. Padahal jika dihitung, lapak kuliner ini jauh lebih kecil dibanding lapak yang akan diterima pedagang sepatu.

"Memang, tempat untuk makan pengunjung lebih kecil dari yang diharapkan. Tapi ya nggak apa-apa, kita akan berproses dan berubah. Kalau sudah legawa, harus siap menerima perubahan," kata Wasidi, pedagang kuliner yang sebelumnya berjualan di depan Gedung DPRD DIY.

Menurut dia, tempat baru itu lebih nyaman, tidak perlu lagi bongkar pasang tenda. Sanitasi pun bagus dan bersih. “Tapi saya tetap mengharapkan pihak Pemerintah Kota atau dinas terkait melakukan promosi yang gencar agar pengunjung tetap ramai," harapnya.

Seperti diketahui, wilujengan lapak baru PKL Malioboro telah dilaksanakan di Teras Malioboro 1 (eks Bioskop Indra) pada  Rabu (26/1/2022) petang.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X hadir didampingi Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, pejabat dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

Beberapa perwakilan komunitas pedagang kaki lima turut diundang, mereka antara lain Ketua Tridharma, Ketua Pemalni, Ketua PPMS, Ketua PPLM, Ketua Podma, Ketua Handayani, Ketua PPKLY 37, Ketua Sepatu Mataram, Ketua PKL Senopati, Koordinator pedagang Nol Kilometer, Koordinator pedagang perwakilan, Koordinator Papela dan Koordinator pedagang Sosrokusumo.

Usai seremoni wilujengan yang berlangsung kurang lebih satu jam, Sultan meresmikan difungsikannya Teras Malioboro 1 (eks Bioskop Indra yang berada di sisi Selatan ruas Jalan Malioboro) dan Teras Malioboro 2 (eks Dinas Pariwisata DIY di sisi Utara) sebagai lokasi pengganti PKL Malioboro yang selama ini telah puluhan tahun menjajakan dagangan di emper toko sepanjang Malioboro. (*)


TAGS: PKL  Malioboro 

SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini