PKL Malioboro Mengampanyekan Gerakan Jogja Damai

PKL Malioboro Mengampanyekan Gerakan Jogja Damai

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA — Tak ingin larut dalam arus ketegangan sejak muncul kericuhan beberapa waktu silam, paguyuban pedagang kaki lima (PKL) kawasan Malioboro Yogyakarta, menggaungkan kampanye “Jogja Damai, Malioboro Biasa-biasa Saja”. Kampanye dimaksudkan sebagai salah satu upaya meyakinkan semua pihak, bahwa Jogja tetap adem ayem dan aman untuk dikunjungi. Tidak terkecuali kawasan Malioboro, salah satu magnet wisatawan di Jogja.

Di sela-sela rangkaian acara Syukuran 264 Tahun Kota Yogyakarta, Sabtu (24/10/2020), para pedagang dari berbagai komunitas di Malioboro menyatakan sikap dan semangat untuk menjaga kedamaian di Yogyakarta.

Mereka, bersama-sama relawan, mahasiswa dan pengurus Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Jogja, mengajak semua warga Jogja untuk mengampanyekan kedamaian di Yogyakarta.

“Jogja Damai, Malioboro Biasa-Biasa Saja. Mari kita kampanyekan dan kita dorong terus untuk bersama-sama menjaga kedamaian di Yogyakarta,” kata Desio Hartonowati, Ketua Lesehan Malioboro, melalui siaran pers ke redaksi koranbernas.id.

Menurutnya, kampanye ini dimaksudkan untuk membangun keyakinan kepada masyarakat bahwa meski ada kericuhan beberapa waktu lalu, dan beragam dinamika sesudahnya, Jogja dan teristimewa Malioboro, tetap nyaman dan aman untuk dikunjungi.

“Kabarkan semangat menjaga Jogja Damai. Kita yakinkan bahwa Malioboro baik-baik saja. Ini sekaligus upaya kami untuk memanggil semua pihak, tanpa kecuali, untuk ikut serta merawat dan menjaga kedamaian, keamanan, dan kenyamanan Jogja dan Malioboro,” katanya.

Acara yang berlangsung di depan pintu gerbang lama kompleks Kepatihan ini, dihadiri juga oleh Wakil Walikota Jogja, Heroe Poerwadi, dan Presidium Paguyuban Pedagang Kawasan Malioboro, Sujarwo Putro. Selain pengurus dan anggota PKL komunitas Malioboro, juga hadir perwakilan dari sejumlah komunitas, termasuk IWAPI dan HPI.

Desio menjelaskan, kampanye “Ayo Kabarkan, Jogja Damai, Malioboro Baik-Baik Saja” dilatar belakangi oleh keinginan bersama menjaga atmosfer yang sedikit tegang sejak muncul aksi demonstrasi menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja beberapa waktu lalu.

“Kami ingin semua segera membaik kembali. Kami ingin menyongsong liburan panjang nanti dan untuk seterusnya, dengan lebih mengedepankan perdamaian.

“Suasana yang kurang kondusif bagi kunjungan wisata. Padahal dalam waktu dekat kita akan masuk long week end. Padahal, kita masih tertatih-tatih untuk bangkit akibat pandemi Covid, yang sampai hari ini masih berlangsung,” lanjutnya.

Wakil Walikota Jogja, Heroe Poerwadi, mengapresiasi Komunitas Malioboro yang berupaya mengampanyekan kedamaian dan kenyamanan Jogja.

Menurut Heroe, Yogyakarta sejak dulu dikenal sebagai miniaturnya Indonesia. Di kota ini, hidup bersama masyarakat dari berbagai macam latarbelakang.

“Sangat penting bagi kita untuk terus memupuk perdamaian dan kebersamaan di tengah struktur masyarakat yang begitu beragam. Orang Jogja lebih cinta damai daripada sekadar berdemokrasi. Demokrasi memang memberi manfaat kalau dilakukan secara damai, menciptakan kebersamaan dan menghargai perbedaan pendapat. Inilah yang menjadikan Malioboro didatangi semua orang,” ujar Heroe.

Acara berlangsung cukup singkat, dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng serta kerja bakti membersihkan kawasan Malioboro. Wawali Heroe Purwadi bersama perwakilan pengurus PKL di Malioboro juga melepaskan burung merpati sebagai simbol perdamaian. (*)