Jumat, 30 Okt 2020,


reborn-leila-rouf-ramaikan-dunia-fashion-yogyakartaLeila Rouf, salah seorang desainer asal Yogyakarta dengan brand Kaylila Lurik bersama para model di JFW 2019 di JEC pada 30 Oktober sampai dengan 3 November 2019 lalu.(yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)


yvesta

Reborn, Leila Rouf Ramaikan Dunia Fashion Yogyakarta


SHARE

KORANBERNAS.ID -- Leila Rouf, salah seorang desainer asal Yogyakarta dengan brand Kaylila Lurik kembali hadir dalam perhelatan event fashion di Yogyakarta. Meramaikan Jogja Fashion Week (JFW) 2019 digelar di Jogja Expo Centre (JEC) pada 30 Oktober sampai dengan 3 November 2019 lalu, Leila akan kembali hadir di Hartono Mall pada 20 sampai dengan 23 November 2019 mendatang.

Bersama desainer lain, perempuan yang juga berprofesi sebagai jurnalis ini menggelar peragaan busana dengan tema Sustainable Fashion Warna Indonesia. Leila coba memadukan kain tenun Jepara tile dan lurik Jogja yang diproses produksi tanpa mesin dengan tema Reborn.

Tema ini mewakili kelahiran kembali kain lurik dalam busana kontemporer. Lurik yang pada zaman dahulu diproduksi oleh rakyat jelata dan tidak dikenakan kaum ningrat belakangan menjadi sangat populer dan mampu menyaingi batik, kain yang identik dengan kultur bangsawan.

"Melalui Reborn, saya ingin memodifikasi lurik dengan kain lain yang diproduksi di Nusantara dalam semangat memopulerkan tradisi nasional," jelasnya dalam JFW beberapa waktu lalu.



Di Jogja Fashion Week 2019, Kaylila Lurik berkolaborasi dengan HS Silver, salah satu perusahaan kerajinan perak terbesar di DIY. HS Silver adalah satu dari beberapa perintis usaha kerajinan perak yang kemudian menghidupkan roda perekonomian di Kotagede dan Jogja secara keseluruhan.

Fashion show di Jogja Fashion Week menampilkan busana berkonsep ramah lingkungan. Leila menjadi salah satu dari 75 desainer yang menggunakan bahan-bahan natural. Busana yang ditampilkan dalam misi kampanye ramah lingkungan ini dikaitkan dengan keberagaman kain wastra, baju daerah, adat dan budaya Indonesia yang beragam.

"Lurik Jogja yang diproduksi secara manual, tanpa menggunakan mesin, adalah upaya membuat kain agar lebih ramah lingkungan. Cara-cara tradisional ini semakin digemari dan punya nilai tinggi dalam perkembangan busana Indonesia," tandasnya.(yve)


Baca Lainnya :


Baca Lainnya :


TAGS:

SHARE
'

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini