Sekeping Kisah Ramadan di Kali Code

213
Anak-anak mendengarkan penuturan Devi (Foto: Rohmatunnazilah/KoranBernas.Id)

JOGOYUDAN adalah kampung di bantaran Kali Code, tepatnya di bawah jembatan Gondolayu Gowongan, Jetis. Untuk bisa menuju rumah Pak Indra, kolega mengajar di sekolah saya, kami harus melewati gang kecil yang tidak terlalu jauh dari jalan raya. Saat tiba di rumahnya, keluarga Pak Indra sudah siap menerima kami. Usai bersalaman dengan istri dan anak-anaknya, kami langsung diantar berjalan menyusuri gang-gang di sepanjang kampung Jogoyudan. Pada belokan pertama, saya cukup surprise karena terdapat rumah berbentuk L dengan kolam ikan nila di depannya. Terdengar gemericik air mengalir dari sistem pengairan kolam. Ada juga seperangkat meja kursi buat bersantai di teras depan. Posisi kolam ini berhadapan langsung dengan sebuah rumah dua lantai yang belum selesai dibangun.

Setelah beberapa belokan, kami disapa ibu-ibu penjual makanan dengan berbagai menu berbuka. Lalu di belokan berikutnya, ada tangga menurun yang di tengahnya dibuat lurus agar bisa dilewati motor atau sepeda dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Kami melewati sebuah gang yang mungkin lebarnya tidak sampai satu meter. Ketika berpapasan dengan pejalan kaki, kami harus saling menyingkir memberi jalan. Di ujung gang tersebut, tepat di pinggir Kali Code, berdiri sebuah mushola kecil dengan tangga yang tingginya sekitar satu meter. Di dalam ruangan itu terdapat sekitar 10 remaja laki-laki dan perempuan yang sedang mendiskusikan sesuatu. Kedatangan kami membuat diskusi mereka terhenti. Pak Indra menyapa mereka dan mengenalkan saya bersama rombongan dan menyatakan maksud kami. Mushola itu memiliki hanya satu ruangan saja. Perasaan saya cukup bercampur aduk melihatnya.

Terlihat para remaja di mushola itu sedang mendiskusikan sesuatu. Saat itu acara mengaji sudah bubar, sehingga saya hanya bisa menyimak kisah Devi, yang ditunjuk teman-temannya untuk mewakili teman-temannya menceritakan kegiatan mereka. Dengan lancar dan percaya diri, Devi mengenalkan teman-temannya yang rata-rata masih remaja dan bersekolah di SMP dan SMA. Devi juga menceritakan bagaimana dia dan teman-temannya berusaha membuat anak-anak di kampung mereka agar mau datang ke mushola dan belajar membaca Alquran. Ada sekitar 70 anak-anak yang bersedia bergabung dengan komunitas yang dipimpinnya, namun hanya sekitar 50-an yang hadir untuk mengaji di mushola. Supaya anak-anak ini datang mengaji, beberapa hal yang dilakukan adalah membuka tabungan dan juga mengikuti kegiatan takbir keliling.

Baca Juga :  Jabatan Kades di 17 Desa Kosong, Diisi PNS 

Masalah yang menjadi tantangan bagi para aktivis mushola ini adalah mengubah perilaku dan sikap anak-anak di sini. Ketika saya tanya seperti apa perilaku anak-anak yang membuat mereka sedih, dia mengatakan, “Rusuh bu, kalau ngomong. Bicara kotor lah, Bu. Menyebut nama hewan dibawa-bawa”. Hal ini dibenarkan oleh Pak Indra saat saya wawancara. Bahkan ketika latihan sholat tarawih di teras rumahnya, ada anak yang mengucapkan kata-kata kotor. Ini yang membuat saya tertegun, tetapi saya sangat memahami dan mafhum. Ketika saya tanya Devi, apa pekerjaan orangtua anak-anak ini, dia menjawab, “Orangtua saya, Bapak, bekerja serabutan, Bu. Sedang Ibu di rumah saja.” Saya terdiam mendengarnya. Dia tidak menjawab pertanyaan saya secara langsung. Dia menjawab dengan menjelaskan pekerjaan bapaknya. Sampai di sini saya harus menenangkan hati saya untuk melanjutkan uraian saya.

Kelompok marginal yang butuh perhatian. (Foto: Rohmatunnazilah/KoranBernas.Id)

Dalam istilah sosiologi, orangtua Devi dan kawan-kawannya ini masuk dalam kelompok yang termarginalkan. Menurut Paul Graham, dalam The Power of Marginal, marginal berarti jumlah atau efek yang sangat kecil yang bisa diartikan sebagai kelompok pra-sejahtera. Identik dengan masyarakat kecil atau kaum terpinggirkan. Orang miskin dipastikan menjadi kaum marjinal, tetapi kelompok terpinggirkan belum tentu identik dengan miskin. Kita, secara tidak sengaja, menjadi bagian yang membuat kelompok ini tidak punya kesempatan jalan keluar. Kita yang diam, membuat mereka yang tidak punya KTP ini bahkan tidak akan mendapat fasilitas pendidikan, ekonomi, kesehatan bahkan tidak punya hak buat menguburkan kerabatnya. Padahal ketika kita diam, negara tidak akan memperbaiki nasib mereka. Ketika kita tidak peduli, tidak akan ada Devi yang peduli dengan adik-adiknya yang berkata kotor di dalam mushola. Devi dan kawan-kawannya ini tidak akan tahu bahwa mengeluarkan kata-kata kotor adalah hal yang tidak baik. Tidak tahu bahwa dalam sholat itu ada adab yang berlaku, sehingga kita tidak boleh melakukan aktifitas lain selain yang ada dalam rukunnya. Siapa yang akan peduli dengan Devi dan kawan-kawan ini?

Baca Juga :  Dana Keistimewaan untuk Siapa?

Satu hal yang harus direnungkan: dalam bulan Ramadan ini, apakah kita sudah peduli dengan anak-anak seperti Devi ini? Masih banyak adik-adiknya yang harus disentuh dan dilatih, bagaimana adab berbicara. Bagaimana mendoakan orangtuanya agar sabar menghadapi hidup. Bagaimana mendoakan ibunya yang sakit dan tidak bisa berjalan sementara bapaknya meninggalkan mereka. Saya tidak akan tahu cerita mereka kalau tidak melihat dari dekat apa yang dikerjakan oleh Pak Indra, teman saya ini, yang selama 11 tahun berjuang untuk mencetak karakter seperti Devi saat ini. Dulu ketika Devi masih kecil, ia pun seperti adik-adiknya yang senang berbuat rusuh dan berbicara kotor.

Saya sedih sekaligus bahagia, sedih melihat kenyataan bahwa masih banyak anak-anak termarginalkan yang belum disentuh batin mereka, pada didikan agama dan bahagia karena saya punya kesempatan mengisahkan ini kepada pembaca semua. Bagi saya, inilah hikmah Ramadan yang menguras air mata, karena tak sanggup menahan haru ketika mengisahkan ini… ***