senandung-idealisme-deskabayu-dalam-petikan-gitar-klasik-dwi-hansenMini konser Deskabayu dan Dwi Hansen bersama Setyawan Cello di Rumah AyamVia-via, Prawirotaman, Yogyakarta (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)


Muhammad Zukhronnee Muslim
Senandung Idealisme Deskabayu dalam Petikan Gitar Klasik Dwi Hansen

SHARE

KORANBERNAS.ID,YOGYAKARTA - Deskabyu dan Dwi Hansen berkolaborasi dalam sebuah mini album "Apa Kabarmu?". Dua seniman yang memiliki latar belakang kekaryaan yang berbeda ini meramu mini album ini selama enam bulan.

Mulanya berawal dari keinginan Deskabayu yang gemar menulis puisi ingin sekali melagukan setiap tulisannya sebagai sebuah bentuk karya baru. Dwi Hansen pun dipilih Deska sebagai gitaris yang cocok dengan idealismenya ini. Hansen yang piawai bermain gitar klasik dirasanya cocok mengiringi lirik-lirik ciptaannya.

Alhasil lirik-lirik puitis Deska pun apik bersenandung dengan petikan gitar Hansen. Lima lagu mereka kemas dalam sebuah mini konser, beberapa lagu diantaranya menghadirkan Setyawan sebagai pemain cello dan satu lagu Timang Kenangan bersama Fauzan sebagai seorang vokalis tenor.

"Mini konser ini sengaja dibuat lebih intim. Tamu yang hadir pun merupakan kerabat dekat," kata Deskabayu di sela-sela penampilannya yang dihelat Kamis (7/7/2022) di Rumah Ayam Via-via Prawirotaman.

"Hal ini bertujuan untuk menambah eksposur bagi kami sebagai musisi. Album “Apa Kabarmu?” juga sudah rilis di berbagai platform musik  pada awal Juni 2022 lalu," lanjutnya.

"Apa Kabarmu merupakan sebuah pertanyaan yang mempunyai arti mendalam dan sangat erat dengan situasi Covid-19, terlebih selama dua tahun lebih pandemi. Makna pertanyaan yang benar-benar bertanya, bukan sekedar basa-basi. Apa kabarmu ini pula merupakan sebuah pertanyaan kepada sahabat di kampung halaman saya [Palu], setelah lama Saya tidak bisa pulang. Namun dalam lagu saya buat lebih ceria," imbuh Deska.

Apa Kabarmu? ini adalah lagu yang kami ambil dari single lagu yang kami ambil sebagai judul. Ini mungkin terpengaruh dari situasi Covid, jadi kayak kabar itu menjadi sesuatu yang sangat spesial sekali, ya bertanya itu bukan menjadi sekedar basa-basi. Cuman ini dikemas lebih ceria," ujarnya.

Di dalam mini album ini terdapat lagu Apa Kabarmu?, Insan dan Semesta, Timang Kenangan, Sekuntum Ilalang, serta Sebelum Terlelap. Lagu tersebut secara menyeluruh beraliran folk dengan sentuhan elemen gitar klasik Dwi Hansen. Sementara lirik dan cara bernyanyi dan warna suara dari Deska terasa kental nuansa indie folknya. Perpaduan dua aliran musik yang berbeda ini menyuguhkan nuansa unik dalam karya mereka.

Selain karya dari album “Apa Kabarmu?” Dwi Hansen dan Setyawan cello juga membawakan dua karya instrumental dari berjudul Pulang dan Travellling dari album kolaborasi instrumental keduanya bertajuk Sentimental.

"Timang Kenangan ini adalah secara melodi itu sederhana, akan tetapi dari teknik menyanyinya sangat tidak sederhana," terang Deska.

Dijelaskannya, Timang Kenangan merupakan penggambaran momentum ketika seseorang  mengingat kenangan-kenangan di masa lampau akan tetapi dilakukan sebelum tidur.

"Insan dan semesta, tentang orang yang selalu mengeluh terus dengan banyak masalah dan tiba-tiba ternyata ada banyak yang harus disyukuri, masih hidup, masih bisa makan, bisa kerja di masa Covid, dan menemukan keindahan tersendiri," jelasnya.

Lama berkutat dengan gitar klasik dan instrumentalia, berkolaborasi dengan Deska merupakan musik pertama yang berisi vokal. Dwi Hansen mengaku proses aransemen dan melodi gitar dibuat sepotong-sepotong namun pada akhirnya bisa menampilkan sesuatu ketenangan.

"Ini adalah lagu kedua yang kita bikin lagu tapi tidak dimasukkan album, terus yang ini kita bikin. Karena belum terlalu intens, kita sedikit beradu argumen dan ini yang pakai tenor," ujar Hansen.

Hansen menyebut, sebagai gitaris, komposisi yang dibuat sulit dinyanyikan. Tidak dipungkiri hal tersebut memunculkan rasa pesimis. Namun dalam prosesnya sebisa mungkin disajikan agar mudah untuk dinyanyikan, meski kenyataannya masih sedikit memiliki kerumitan.

Mini album ini dapat dinikmati di berbagai platform musik streaming. Sebagai seniman, mereka juga memiliki ideaisme untuk merekam album ini ke rilisan fisik. Walau saat ini belum memungkinkan.

"Biarkan ini mini album ini menemukan jalannya, Apapun itu menjadi tanggung jawab kita, yang penting kita sudah terpuaskan sebagai pemusik," tutupnya.(*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini