Seni Merangkai Janur Dihidupkan Lagi

37
Bedah buku seni merangkai janur dilanjutkan praktik, Kamis (9/08/2018), di Balai Desa Ringinharjo Kecamatan Bantul. (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Seni merangkai janur yang terkesan menghilang dari masyarakat, kini dihidupkan kembali oleh warga Desa Ringinharjo Kecamatan Bantul.

Setidaknya hal ini terlihat saat digelar acara bedah buku berjudul Seni Merangkai Janur, Kamis (9/08/2018), Balai Desa Ringinharjo Kecamatan Bantul.

Kegiatan yang diadakan oleh Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah ini dihadiri ratusan peserta dengan narasumber Ir Atmaji dari Komisi D DPRD DIY, Cholil Nur Wakhid (Sanggar Rupasari Yogyakarta), ISI Yogyakarya serta dari Dinas UKM Bantul.

“Janur itu digunakan untuk berbagai keperluan bahkan ketika orang meninggal. Ini adalah tradisi zaman dahulu dan yang kita kembangkan saat ini seninya saja,” kata Cholil.

Atmaji mengatakan seni merangkai janur sangat perlu dilestarikan sebagai bagian dari budaya warisan nenek luhur.

Baca Juga :  Inilah Wadah untuk Tampung Remaja Gandrung Sains

“Saat ini banyak hiasan kertas atau imitasi. Seni merangkai janur ini harus dilestarikan  karena sarat filosofi dan digunakan sejak seseorang lahir hingga meninggal “katanya.

DPRD DIY mendukung pelestarian seni merangkai janur, dengan mengalokasikan anggaran untuk cetak dan bedah buku mengenai seni merangkai janur.

“Di seluruh DIY kita ada 80 titik lokasi  bedah buku dengan 80 judul. Judul buku disesuaikan dengan potensi wilayah masing-masing. Misalnya, beberapa waktu lalu ada  buku berjudul mengenai bisnis online,” kata Atmaji.

Kegiatan bedah buku selain menambah pengetahuan juga menjadi sarana untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Karena minat baca di tanah air masih rendah.

“Semoga dengan hadirnya beragam buku ini akan menarik minat pembaca,” katanya. (sol)

Baca Juga :  Ini Cara Tangani Anak yang Berhadapan dengan Hukum