Kamis, 24 Jun 2021,


seperempat-abad-berkarya-black-boots-tetap-cadasLaunching mini album Black Boots di Asmara Art & Coffee Shop, Tirtodipuran, Yogyakarta. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)


Muhammad Zukhronnee Muslim
Seperempat Abad Berkarya, Black Boots Tetap Cadas

SHARE

KORANBERNAS ID, YOGYAKARTA -- Black Boots, band punk rock era 90-an mengeluarkan mini album berjudul Resist Insist berisikan 6 lagu dan didistribusikan secara terbatas sebanyak 100 cassette tape dengan limited hand numbered.

Ada dua pilihan paket pembelian bagi penggemar Black Boots, yaitu special bundle dan cassette only. Special Bundle Box eksklusif dibuat hanya 50 buah yang berisikan cassette tape, t-shirt, patch, dan pin. Semuanya bisa didapatkan melalui akun digital Gimme Gimme, baik website maupun Instagram.

Peluncuran album Resist Insist digarap oleh tiga personil Black Boots merupakan statement konsistensi mereka selama seperempat abad berkecimpung dalam musik punk. Walau sibuk dengan dunia seni rupa dan kreatifitas lain diluar musik, Black Boots sejak awal telah bersepakat untuk tidak pernah menyurutkan energi, apalagi bubar.

"Sesuai judul Resist Insist, album ini membawa semangat Black Boots untuk kuat bergerak maju dan bersikeras menolak ditindas," papar Budi Bodhonk, drummer Black Boots di sela-sela launching mini album, Rabu (7/4/2021).

Terbukti, walaupun sempat terjadi pergantian personil maupun berpindah-pindah tempat tinggal, band yang identik dengan musik perlawanan dan kritikan ini masih eksis hingga 25 tahun.

“Kami terbebaskan berkembang dalam seni rupa, bermain musik dan bekerja. Bermain musik bagi kami adalah persahabatan tanpa batas untuk menyuarakan ide-ide kritis dimana kita hidup dan tinggal bersama bermasyarakat," lanjutnya.

"Kita adalah manusia sosial yang setiap harinya bertemu dengan manusia lain, lingkungan hidup dan binatang-binatang. Kita manusia yang mempunyai kebutuhan untuk menjaga hidup harmoni bersama di dunia ini," imbuhnya.

Sementara Wahyu Sutik Jatmiko sebagai bassist Black Boots menambahkan, setelah 25 tahun berkarya dan menelurkan beberapa album, pada mini album inilah pertama kalinya Black Boots merekam lagu-lagunya dengan mixing yang lebih berfokus pada kualitas audio.

"Hal ini tak lain adalah untuk memanjakan telinga para penggemar. Selain itu, juga untuk kebutuhan platform musik streaming," imbuh Sutik.

"Lagu-lagu dalam mini album ini direkam di studio musik milik mendiang Djaduk Ferianto. Teknik mixingnya juga berbeda dengan rekaman di album-album sebelumnya," lanjutnya.

Acara launching yang dikemas dengan konsep intimate talk show dan hearing session ini juga merupakan ajang reuni dengan beberapa sosok yang berpengaruh dalam perjalanan Black Boots selama 25 tahun berkarya.

Acara ini juga disertai pembukaan pameran poster Black Boots yang berlangsung di Asmara Art & Coffee Shop dari 7 April 2021 - 28 April 2021.

Nama band punk rock Black Boots yang berdiri sejak 24 November 1996 ini diartikan sebagai simbol kekuasaan orde baru. Pada masa itu Black Boots melihat kekerasan yang terjadi, korupsi, pelanggaran HAM, bahkan pembatasan kemerdekaan berekspresi.

Konsep musik Black Boots adalah musik punk rock n’roll cadas yang mewakili perjuangan sosial, protes, marah terhadap kenyataan yang tidak adil. Mereka membayangkan bagaimana caranya mendapatkan ketenangan hidup merdeka dan damai. (*)



SHARE


'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini