Kamis, 22 Apr 2021,


si-wolly-nyaman-jurus-sleman-turunkan-kasus-dbdBupati Sleman, Sri Purnomo menyerahkan bibit nyamuk yang telah diberikan bakteri Wolbachia, kepada Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, Joko Hastaryo di smart room Kantor Dinas Kominfo Sleman, Selasa (16/2/2021). (istimewa)


Nila Hastuti
Si Wolly Nyaman Jurus Sleman Turunkan Kasus DBD

SHARE

KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman kembali meluncurkan inovasi dalam pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah Sleman. Bekerja sama dengan Yayasan Tahija dan World Mosquito Program, kali ini Pemkab Sleman luncurkan Si Wolbachia, Nyamuk Aman Cegah DBD Sleman atau yang disingkat Si Wolly Nyaman.


Peluncuran program tersebut dilakukan secara simbolis oleh Bupati Sleman, Sri Purnomo yang ditandai dengan penyerahan bibit nyamuk yang telah diberikan bakteri Wolbachia, kepada Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, Joko Hastaryo di Smart Room Kantor Dinas Kominfo Sleman, Selasa (16/2/2021).


Kepala Dinkes, Joko Hastaryo mengatakan bahwa peluncuran program tersebut di Sleman merupakan salah satu upaya yang dilakukan Pemkab Sleman dalam mengendalikan jumlah DBD di Sleman.

“Ini (program Si Wolly Nyaman) merupakan upaya dalam pengendalian DBD. Sebelumnya telah banyak upaya yang dilakukan Pemkab Sleman yaitu membentuk Pokjanal dan upaya lainnya," kata Joko.


Terkait kasus DBD di Sleman, Joko juga mengungkapkan adanya kenaikan jumlah kasus DBD di Sleman pada tahun 2020. Sebanyak 810 kasus ditemukan di Sleman pada tahun 2020. Angka tersebut mengalami kenaikan cukup signifikan dibanding pada tahun 2019 yaitu sejumlah 728 kasus.


Adanya kenaikan jumlah kasus DBD ini, Joko menilai penerapan teknologi nyamuk Aedes Aegypti ber-Wolbachia sangat dibutuhkan. Pasalnya, secara ilmiah, penerapan program tersebut telah menunjukkan hasil yang baik dalam percobaannya.


Wolbachia juga dinilai efektif dalam menurunkan penularan virus dengue. Hal tersebut dijelaskan oleh Ketua Yayasan Tahija, Trihadi Saptoadi. Trihadi menyebut Wolbachia ini terbukti menurunkan 77 persen kasus DBD dari hasil efikasi di Kota Yogyakarta.

“Sleman akan menjadi wilayah pertama dalam implementasi program ini. Jadi bukan hanya untuk menekan kasus, tapi juga implementasi dan kita harapkan menjadi role model bagi wilayah lain,” katanya.

Senada dengan pernyataan tersebut, Team Leader WMP, Riris Andono Ahmad menyebut selain memiliki kemanjuran sebesar 77 persen, teknologi program Wolbachia tersebut dinilai aman dan ramah lingkungan serta mampu bertahan dalam jangka waktu yang lama.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sleman berkesempatan untuk melakukan simulasi bagaimana metode Wolbachia tersebut diimplementasikan.

Adapun metode tersebut jika diimplementasikan di masyarakat yaitu dengan meletakkan ember berisi telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia di rumah warga dan dibiarkan untuk berkembangbiak menjadi nyamuk dewasa. Selanjutnya, nyamuk dengan Wolbachia tersebut akan melakukan perkawinan dengan nyamuk lokal, sehingga keturunannya menjadi nyamuk dengan Wolbachia.

Sementara Sri Purnomo menyampaikan apresiasinya terhadap peluncuran program Si Wolly Nyaman. Adanya inovasi dalam pengendalian DBD tersebut diharapkan dapat memberikan hasil yang efektif dan dapat menghindarkan masyarakat dari kasus DBD. (*)



SHARE


'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini