Sleman Rayakan Hari Jadi ke-102

229
Tumbak Kyai Turunsih siap dikirab dalam upacara hari jadi Sleman, Selasa (15/05/2018) sore.(nila jalasutra/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Puncak acara hari Jadi ke 102 Kabupaten sleman tahun 2018 didahului dengan penyerahan dokumen dari juru kunci /pengageng Ambarukmo kepada ketua I panitia hadi jadi satu abad Sleman Ir Arif Pramana MT. Hadir pada kesempatan tersebut semua camat dan kepala desa se kabupaten Seman, Selasa (15/05/2018).

Selanjutnya dikirab dengan menaiki kereta/andong sebanyak 25 kereta. Urutan kirab bregodo tersebut pertama 4 pasukan berkuda yang, komunitas sepeda onthel kuno, diikuti kereta yang dinaiki panitia hari jadi Kabupaten, kereta dimas/diajeng dan diikuti pasukan/bregodo Camat dan kepala desa. Sebagai pembuka jalan diawali dengan kesenian gamelan yang dimainkan live di atas 2 kendaraan tronton.

Kirab mengawal dokumen dari Ambarrukmo tersebut dengan menyusuri Jalan Solo ke arah Barat, Perempatan Tugu, sampai perempatan Pingit, menyusuri jalan Magelang dan kumpul di Tugu Adipura Mulungan, selanjutnya berangkat menuju Pendopo Parasamya kabupaten Sleman dengan jalan kaki. Di Pendopo Parasamya dokumen yang dibawa dari Ambarukmo oleh ketua panitia hari jadi 102 Sleman diserahkan kepada Bupati Sleman Sri Purnomo didampingi seluruh pejabat Pemkab Kabupaten Sleman.

Prosesi Bedhol Projo merupakan sebuah upaya merekonstruksi salah satu peristiwa bersejarah pada masa Bupati Sleman dijabat oleh KRT Murdodiningrat tahun 1964, memindah pusat pemerintahan Kabupaten Sleman dari Petilasan Dalem Pendopo Ambarukmo ke Desa Beran, Tridadi, Sleman. Pada masa ini pula Kabupaten Sleman memiliki lambang daerah dengan bentuk persegiempat yang melambangkan prasaja dan kekuasaan.

Puncak acara hari Jadi Kabupaten sleman tahun 2018 ditandai dengan Upacara di Lapangan Denggung Selasa, 15 Mei 2018. Dalam puncak acara tersebut beberapa Bregodo di Kabupaten Sleman ditampilkan, antara lain Cucuk lampah, Pembawa pusaka dan Rontek, Bregada BSW Gamping, Bregada Abdi dalem Kabupaten Sleman, Bregada Paguyuban Sekar Sedah, Bregada Gandrungarum Cangkringan, dll Di samping beberapa bregada yang mengikuti upacara, dari PNS/BUMD Sleman serta bregodo prajurit upacara adat se Kabupaten Sleman.

Baca Juga :  Jogja Menginspirasi Pengelola Desa Wisata Kebumen

Dari beberapa Bregada tersebut diberangkatkan dari lima titik , yaitu dari Pendopo Parasamya kabupaten sleman, Perempatan KPU, Ngancar Kidul, Jalan Gito-Gati dan Mulungan. Acara diawali dengan pengambilan pusaka Tumbak Kyai Turunsih, Lambang Sleman, Juaja Mega Ngampak, Bendera Merah Putih dan Umbul-umbul yang selanjutnya dikirab menuju Lapangan Denggung. Bersamaan dengan pengguntingan buntal tanda dimulainya kirab pusaka tumbak Kyai Turun Sih hujan mengguyur wilayah Ibukota Sleman dan sekitarnya namun hujan deras yang mengguyur tidak menyurutkan semangat untuk melaksanakan kirab.

Upacara dipimpin oleh Inspektur Upacara Bupaati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI. Pada Upacara Puncak Hari Jadi ke 102 Kabupaten Sleman, Bupati Sleman Sri Purnomo membacakan sambutan Gubernur dengan menggunakan bahasa Jawa senada dengan seluruh peserta upacara yang semuanya menggunakan busana Jawa serta seragam bregodo keprajuritan kebesaran masing-masing.

Gubernur DIY menyampaikan ucapan selamat hari jadi ke 102 Kabupaten Sleman dengan harapan dapat menjadikan Sleman semakin maju dan berkembang dengan semangat Sleman Sembada. Dengan Adanya otonomi daerah sudah menunjukkan sinyal perubahan paradigma yakni paradigma pertumbuhan menuju pemerataan pembangunan yang lebih adil dan merata.

Pemerintah daerah diharapkan bisa mengambil inisiatif dalam merumuskan kebijakan daerahnya sesuai aspirasi, potensi juga sosio kultural masyarakat. Sudah saatnya pemerintah daerah merancang dan melaksanakan program yang sesuai dengan kondisi lokal dengan kekuatan dan tanggung jawab yang sungguh-sungguh. Diupayakan juga mendorong masyarakat mengembangkan prakarsa dan kreativitas, serta meningkatkan peran serta masyarakat serta mengembangkan peran dan fungsi masing-masing bersama dengan pemerintah.

Baca Juga :  Sultan Tinjau Toilet Berkelas Internasional

Peringatan hari jadi ini juga diharapkan menjadi momentum untuk mengevaluasi jalannya otonomi daerah yang seharusnya dilihat permasalahan secara bersama-sama yang intinya daerah jangan mementingkan kepentingan daerahnya saja harus tetap dijunjung prinsip toleransi dengan daerah tetangga. Diharapkan daerah tidak hanya memanfaatkan peluang kebebasan tetapi juga mengembangkan sikap dialogis, negosiatif, persuasif, komunikatif dan sama-sama mengetahui dalam pelaksanaan pembangunan Indonesia baru.

Untuk memeriahkan acara dilapangan Denggung juga dipentaskan tari kolosal oleh sekitar 50 penari yakni tari Gempita Sembada yang menceriterakan tentang kesiapan masyarakat Sdleman untuk mensukseskan dan menjunjung tinggi pesta demokrasi 2019.

Di akhir rangkaian upacara dilakukan pelepasan 102 ekor burung merpati oleh Bupati Sleman, Ketua DPRD Sleman dan Wakil Bupati Sleman, serta devile pasukan peserta upacara yang mendapat sambutan yang cukup meriah dari tamu undangan dan masyarakat yang menyaksikan.

Upacara Puncak Hari Jadi Sleman ke 102, juga dilakukan di Kantor Kecamatan dan setiap sekolah di Kabupaten Sleman dengan guru dan siswa juga memakan pakaian kebaya adat Jawa bagi perempuan dan laki-laki memakai Surjan Mataraman Jangkep dengan tata upacara menggunakan tata Upacara Adat Ngayogyakarto Hadiningrat. Kegiatan ini dimaksudkan agar hari jadi dapat memasyarakat karena Hari Jadi bukan merupakan milik Pemkab Sleman tetapi merupakan milik masyarakat Kabupaten Sleman dan lebih mengenalkan budaya daerah kepada para siswa.

Sementara itu seluruh pegawai Pemkab Sleman diwajibkan memakai kebaya adat Jawa bagi PNS perempuan dan untuk PNS Laki-laki memakai Surjan Mataraman Jangkep. Dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat juga diwajibkan menggunakan bahasa Jawa Kromo. (yve)