Rabu, 14 Apr 2021,


sosialisasi-empat-pilar-afnan-ingatkan-ancaman-dari-luarAnggota MPR RI, M Afnan Hadikusumo. (istimewa)


Siaran Pers
Sosialisasi Empat Pilar, Afnan Ingatkan Ancaman dari Luar

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Anggota MPR RI, M Afnan Hadikusumo, mengingatkan saat ini Indonesia menghadapi ancaman dari luar negeri maupun dalam negeri. Semua pihak harus waspada agar keutuhan NKRI (Negara Kesatuhan Republik Indonesia) tetap terjaga.


“Ancaman dari luar misalnya kebijakan pemerintah China meningkatkan kekuatan pertahanannya, terutama angkatan lautnya, mengundang datangnya kekuatan lain seperti Amerika Serikat (AS) untuk berperan lebih banyak di kawasan Asia Pasifik,” ungkapnya, Jumat (5/2/2021), di Kantor Perwakilan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI DIY.

  • Menjadi Guru Milenial
  • Siswa SMAN 10 Yogyakarta Pameran di TBY

  • Berbicara pada Sosialisasi Empat Pilar Bernegara, Jumat (5/2/2021), bersama Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) DIY, Afnan menyatakan untuk mengimbangi kekuatan China bahkan Presiden Trump telah menempatkan pasukannya di sekitar Kawasan Laut China Selatan.

    Tak hanya dari luar, cucu Pahlawan Nasional Ki Bagoes Hadikoesoemo ini juga mengingatkan agar mewaspadai potensi ancaman dari dalam negeri, meliputi maraknya kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan potensi perpecahan.

  • Wakaf Sumur Bikin Warga Dusun Lega
  • Delapan Kecamatan di Jogja Ini Ramah Difabel

  • Menurut Afnan, perempuan dan laki-laki memiliki peran yang sama penting dalam membangun dan menjaga ketahanan nasional di Negara Kesatuan Republik Indonesia khususnya di tengah-tengah lingkungan masyarakat.


    Ini berangkat dari isi Konstitusi Negara Indonesia UUD 1945 (yang telah diamandemen). Disebutkan secara tegas, setiap warga negara berhak dan wajib dalam upaya pembelaan negara (Pasal 27, ayat 3) dan dalam usaha pertahanan dan keamanan Negara (Pasal 30, ayat 1).


    “Kedua pasal ini secara tegas menyatakan setiap warga Negara Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan, berhak dan wajib ikut serta dalam upaya bela negara dan usaha mempertahankan keamanan Negara Republik Indonesia,” ungkap Afnan.

    Diakui, secara fisik perempuan dan laki-laki terlahir berbeda. Mereka memiliki peran yang juga berbeda di dalam keluarga. Seorang perempuan yang telah menikah sejatinya menjadi seorang ibu yang hamil, melahirkan, menyusui dan mendidik anak-anaknya.

    Sedangkan seorang laki-laki, terutama yang sudah berkeluarga, harus bekerja, bertanggung jawab menafkahi isteri dan anak-anaknya, serta menjadi imam dan kepala keluarga yang mengarahkan dan membimbing keluarganya.

    Menurut Afnan, organisasi perempuan bisa memainkan peran sebagai jembatan komunikasi dalam upaya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. “Penyebab utama perpecahan adalah tersumbatnya komunikasi antara berbagai elemen bangsa,” ungkapnya.

    Tiang penyangga

    Ketua PWNA DIY, Nunung Damayanti, mengatakan Empat Pilar kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan tiang penyangga bagi berdirinya negara Indonesia.

    Indonesia ibarat sebuah bangunan rumah, maka pilar merupakan tiang penyangga suatu bangunan agar tetap berdiri kokoh. Apabila salah satu saja dari tiang ini rapuh maka bangunan mudah roboh.

    “Kita semua tahu, memudarnya nilai Empat Pilar ini mengakibatkan degradasi moral di mana-mana, karena rendahnya pemahaman atas pemaknaan kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata dia.

    Diharapkan melalui Sosialisasi Empat pilar ini para kader Nasyiatul Aisyiyah DIY khususnya dan kader Nasyiatul Aisyiyah Indonesia umumnya dapat menanamkan nilai-nilai luhur Empat Pilar Kebangsaan tersebut.

    Dia menegaskan, kaum perempuan sebagai ibu bangsa memiliki peran menanamkan nilai kebangsaan kepada anak-anaknya sejak dini.

    “Sampaikan bahwa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, agama, ras dan kebudayaan yang diikat oleh ideologi Pancasila. Dengan memiliki pemahaman kebangsaan yang benar dan utuh, maka  anak mampu menangkis sikap intoleransi terhadap keberagaman,” ucapnya.

    Semuanya harus dimulai dari dalam rumah bukan di luar rumah. Ibu merupakan ujung tombak ketahanan keluarga yang bermuara pada ketahanan nasional dan bangsa.

    “Perempuan sebagai pendidik pertama dan utama dalam keluarga menjadi harapan dalam menciptakan generasi yang diharapkan bagi bangsa, negara dan agama. Keyakinan beragama yang lebur dengan  nilai budaya Indonesia adalah potensi kekuatan bangsa dalam mempertahankan kehidupan berbangsa dan bernegara,” tambahnya.

    Usai acara sosialisasi bertema Meneguhkan Nilai Pancasila dalam Pengambilan Keputusan Kebangsaan bagi Perempuan itu, Afnan Hadikusumo melakukan launching program-program unggulan Nasyiatul Aisyiyah di antaranya Kajian Keluarga Muda Tangguh Nasyiatul Aisyiyah (KMTNA), Rumah Aduan Milik Nasyiatul Aisyiyah (Ramina) dan Mini Series Pashmina.

    Kajian KMTNA merupakan program unggulan Bidang Dakwah PWNA DIY. Tujuan program ini membentuk keluarga tangguh dengan melaksanakan kajian rutin berkala. Kajian ini dilaksanakan guna menanamkan 10 Pilar NA.

    Sedangkan Ramina merupakan program unggulan dari Bidang Sosial, sementara Mini Series Pashmina bekerja sama dengan Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA).

    Rangkaian kegiatan kali ini dihadiri pewakilan kader Nasyiatul Aisyiyah se-DIY, perwakilan Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah di DIY serta Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah DIY. (*)



    SHARE

    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini