Stres dan Emosi, Menulislah

271
Narasumber tampil dalam acara menulis cerpen yang digelar di Gubug Hijau Raya Kultura, Gesikan, Jaranan, Desa  Panggungharjo, Sewon, Selasa (22/08/2017). (sari wijaya/koranbernas.id)

KORAN BERNAS.ID–Penulis dan sastrawan Naning Pranoto mengatakan ketika stres dan emosi, maka orang disarankan untuk menulis. Karena dengan menulis bisa meredakan segala yang tertera di dalam perasaannya.

“Misalnya stres karena nunggu suami lama menjemput, menulislah, ambil kertas. Tuangkan apa yang ada dalam perasaan saat itu.  Begitupun kalau pikiran cumleng misal karena karena tidak ada uang, itu  bisa dibuat tulisan. Jadi apa yang terjadi dalam kehidupan ini bisa menjadi inspirasi tulisan termasuk cerpen. Termasuk alam dan lingkungan juga bisa menjadi inspirasi,”kata Naning saat menjadi pembicara dalam Pelatihan Menulis Cerpen Berwawasan Ekologi bagi guru SMP, SMA dan SMK di Gubug Hijau Raya Kultura, Gesikan, Jaranan, Desa Panggungharjo,Kec Sewon, Selasa (22/08/2017).

Pembicara lain yang tampil dalam pelatihan kerja sama FBS UNY, Gubug Hijau Raya Kultura dan penerbit Cantrik Pustaka tersebut adalah Prof DR Suminto A Sayuti dari UNY dan DR Wiyatmi M.Hum.

Menurut Naning, seseorang bisa menuangkan ide tadi dan mewujudkan sebagai  sebuah cerita. Tentu mereka harus memulai dengan plotting dan menggunakan lembar-lembar catatan elemen cerpen.

“Ada perbedaan antara pengarang dan penulis. Kalau pengarang itu adalah creative thinking. Sedangkan penulis adalah critical thinking. Jadi seseorang bisa menjadi pengarang ataupun menjadi penulis. Jika jurnalis mengkombinasikan keduanya,”terangnya.

Sementara Suminto A Sayuti mengatakan lingkungan dan suara alam di sekitar kita, dari tataran relasi negara, kota,  desa, kampung , rumah tinggal hingga kos–kosan adalah tempat tinggal lokalitas.

“Secara konseptual lokalitas dapat disederhanakan sebagai lingkungan yang berada di sekeliling kita. Baik dalam sifatnya mistis, fisik dan psikologis. Baik yang sifatnya sosial, natural maupun kultural,” katanya.        Dari  lingkungan itu pula, bisa melahirkan ide penulisan yang bagus.

Sementara Wiyatmi mengatakan di Indonesia perhatian terhadap alam dan lingkungan telah merambah berbagai bidang ilmu termasuk ilmu satra.

“Timbulnya gagasan sastra hijau diantaranya oleh komunitas Raya Kultura yang dipelopori Bu Naning ini menunjukan adanya perhatian serius dari sejumlah sastrawan dan pecinta sastra terhadap alam dan lingkungan,”katanya.

Saatra hijau sendiri memiliki beberapa kriteria yaitu  bahasa yang digunakan banyak mengandung diksi ekologis, isi karya dilandasi rasa cinta pada bumi. Rasa kepedihan bumi yang hancur, ungkapan kegelisahan dalam menyikapai penghancuran bumi, melawan ketidak adilan atas perlakuan sewenang-wenang  bumi dan isinnya (pohon, tambang, air dan udara serta penghuninya yakni manusia), ide pembebasan bumi dari kehancuran  dan implementasinya.

“Sastra hijau harus mampu mempengaruhi  pola pikir dan sikap masyarakat terhadap penghancuran bumi. Hal ini sesuai dengan visi dan misi sastra hijau yaitu sastra yang berperan  dalam penyadaran dan pencerahan yang diharapkan dapat mengubah gaya hidup  menjadi pemelihara merawat bumi,”katanya. (Sari Wijaya/SM)