sufi-healing-di-balik-makna-ketupat-idul-fitriH. Yazid al Ansori, S.Sy, M.Pd.


---
Sufi Healing di Balik Makna Ketupat Idul Fitri

Oleh: H. Yazid al Ansori
SHARE

PERAYAAN idul fitri di Indonesia dipenuhi dengan beragam budaya. Salah satunya budaya lebaran ketupat. Lebaran ini biasanya jatuh pada H+7 setelah lebaran, atau tanggal 8 Syawal. Ada juga yang membuat ketupat pada hari pertama yaitu pada 1 Syawal.


Pada hari itu sebagian besar masyarakat muslim Indonesia berbondong-bondong membuat ketupat untuk menjadi sajian makanan untuk keluarga sendiri, tetangga, maupun kerabat jauh yang ingin datang untuk berlebaran bersama. Ada juga yang membawa ketupat beserta lauk pauknya ke masjid atau mushala, kemudian dimakan bareng setelah shalat Idul fitri selesai. Bahkan sebagian sengaja menyajikan di depan rumah, diperuntukkan bagi siapa saja yang lewat depan rumah dan menghendaki makan ketupat.


Di balik adanya budaya ketupat, kita perlu tahu bahwa filosofi dari ketupat ini membawa pemikiran mengenai sufi healing yang sangat komprehensif, terlebih  bagi umat Islam sendiri. Sufi healing merupakan produk ijtihadi telah kita ketahui bersama bahwa ketupat ini memang digagas oleh salah satu dewan walisongo yang memiliki latar belakang tasawuf yang kuat, yaitu Raden Mas Said atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga memang dikenal memiliki ilmu tasawuf tingkat tinggi. Kita juga pasti sangatlah paham bahwa tasawuf juga disebut sebagai psikologi Islam sendiri, karena memang di dalamnya membahas keadaan jiwa yang tercermin melalui perilaku, sebagai salah satu diskursus.


Sufi healing yang terdapat pada filosofi ketupat setidaknya dapat penulis jabarkan. Pertama, ketupat berasal dari bahasa Jawa, yaitu ngaku lepat, yang dalam bahasa Indonesia diartikan mengakui segala kesalahan. Dalam konsentrasi psikologi, mengakui kesalahan merupakan salah satu cara terapi psikis, terutama untuk diri sendiri. Diakui atau tidak, memang jiwa seseorang sering kali tersiksa dan tidak fokus dalam mengerjakan suatu pekerjaan karena terdistraksi oleh kesalahan yang selalu menghantui.

Ketupat atau kupat juga bermakna laku papat artinya empat tindakan dalam perayaan lebaran. Empat tindakan tersebut adalah lebaran, luberan, leburan dan laburan. Arti dari masing-masing kata antara lain lebaran memiliki makna usai, menandakan bahwa puasa Ramadan telah selesai, kata lebaran berasal dari kata lebar yang berarti pintu ampunan telah terbuka lebar. Sementara luberan memiliki makna meluber atau melimpah, sebagai simbul ajaran sedekah kepada fakir miskin.

Sedangkan leburan mempunyai makna habis dan melebur, maksudnya bahwa pada momen lebaran, dosa dan kesalahan kita akan melebur habis, karena semua orang Islam saling memaafkan satu sama lain. Sedangkan laburan adalah labur atau kapur. Kapur adalah zat yang biasa digunakan untuk penjernih air atau pemutih dinding. Maksudnya adalah agar manusia selalu menjaga kesucian lahir maupun batin satu sama lain.

Dalam psikologi positif, memaafkan disebut sebagai sesuatu yang bersifat pribadi, merupakan proses internal yang secara sukarela melepas perasaan dan pikiran akan kebencian, kemarahan serta keinginan balas dendam terhadap seseorang yang menganiaya kita, bahkan termasuk diri sendiri. Pemaafan dapat dimulai dengan cara yang berbeda. Semua itu bisa jadi merupakan hasil dari proses kognitif, perilaku pelaku, perilaku korban, keputusan yang disengaja, pengalaman atau ekspresi emosional, pengalaman spritual, atau berbagai kombinasi dari semua itu.

Kedua, janur, adalah daun kelapa yang masih muda, berwarna kuning kehijauan. Janur banyak dipakai masyarakat muslim Indonesia dalam berbagai acara, semisal pernikahan. Dalam salah satu literasi dikatakan bahwa janur digunakan sebagai tolak balak menurut kepercayaan mereka. Secara fakta kesehatan, dalam salah satu laman web, janur sangat bermanfaat dalam mengatasi penyakit kuning, radang hati hingga tekanan darah tinggi. Dalam pengobatannya, janur ada yang direbus dan dibakar. Dari model pemasakan ketupat, terdapat indikasi kesehatan yang didapatkan dari pemakaian janur sebagai kulit ketupat ini.

Dalam masyarakat jawa, janur merupakan singkatan dari frasa "sejatine nur" yang melambangkan seluruh manusia berada dalam kondisi yang bersih dan suci setelah melaksanakan ibadah puasa. Selain itu, menurut mereka janur memiliki kekuatan magis sebagai suatu benda yang dapat menolak bala.

Alasan itulah yang menyebabkan beberapa orang menggantungkan ketupat di depan pintu rumah mereka, sebagai salah satu upaya permohonan kepada Allah SWT agar dijauhkan dari malapetaka.

Anyaman ketupat yang cukup rumit memiliki arti bahwa hidup manusia dipenuhi dengan rintangan dan lika-liku. Bentuk segi empat yang ada pada ketupat, menggambarkan empat jenis nafsu dunia.

Empat nafsu tersebut adalah nafsu emosi, nafsu untuk memuaskah rasa lapar, nafsu untuk memiliki sesuatu yang indah dan nafsu untuk memaksa diri.

Seseorang yang memakan ketupat, digambarkan sebagai orang yang telah bisa mengendalikan keempat nafsu tersebut setelah melaksanakan ibadah puasa.

Ketiga, anyaman ketupat unik dan berkreasi seni tinggi. Membuat ketupat, bagi sebagian orang sangatlah mudah karena sudah terbiasa, sebaliknya sangat susah bagi orang yang tidak pernah membuatnya. Pasalnya memang pembuatan ketupat yang menggunakan dua bilah janur memang penuh lika-liku, di mana saling mengait satu dengan lainnya. Sehingga menjadi sebuah bangunan ketupat yang kuat dan tahan ketika dijadikan wadah beras yang nantinya dimasak dalam tungku yang sangat panas.

Lika-liku anyaman ketupat ini melambangkan batin seseorang. Dalam batin, seseorang memiliki tingkatan jiwa yang berlapis-lapis, menurut diskursus tasawuf. Ketupat dibentuk dengan model segi empat, melambangkan 4 tingkat nafsu, yaitu nafs al-Amarah, Nafs al-Lawwamah, nafs al-Sufiah dan Nafs al-Muthmainnah. Nafs al-Amarah menjadi lapisan nafsu terluar jiwa manusia, dalam al-Qur’an disebut sebagai nafs al-Amarah bi al-Su’.

Pada lapisan individu masih memiliki sifat kikir, materalistik, iri dengki, jahil, hedonistik, sombong dan pemarah. Pada tingkat nafsu lawwamah seseorang sudah mencapai kesadaran akan kebaikan dan kejahatan, sehingga suka mencela diri sendiri maupun orang lain. ia cenderung memiliki sifat pencela, menipu, ujub, penggunjing, pamer, dholim, pendusta dan lalai.

Pada nafsu sufiyah sebagai tingkatan ketiga jika dibandingkan dengan pemikiran tasawuf yang lain, maka menempati nafsu mulhimah. Dalam lapis ini seseorang sudah agak lembut dan melahirkan kesadaran positif sehingga memiliki sifat tawadhu, dermawan, lapang dada, bertaubat, sabar, dan menerima. Keempat, nafs al-Muthmainnah, yaitu jiwa yang diterangi oleh cahaya hati nurani. Seseorang pada tahap ini memiliki sifat tidak kikir, tawakal, ikhlas, syukur, rela, dan takut kepada Allah.

Sebagai seorang muslim sudah sepatutnya untuk dapat meraih tingkatan jiwa yang tinggi. Karena sebagaimana cerita ketika sepulang perang badar, bahwa Nabi SAW pernah menyabdakan bahwa setelah perang badar ada perang yang lebih besar, yaitu memerangi diri sendiri (nafsu).

Urgensi dari mengendalikan nafsu ini ialah untuk meraih tingkat insan kamil di sisi Allah (habl min Allah), sehingga dalam dunia sosial akan otomatis juga menjadi baik (habl min al-Nas), karena nafsu buruk (takhalli) telah kita buang, dan diri sudah dihiasi oleh nafsu yang penuh dengan kebaikan (tahalli). Pada akhirnya diri yang baik di sisi Allah dan makhluknya akan menjadi jiwa-jiwa yang tenang, sehat, berdaya tahan tinggi, dan berkualitas. **

H. Yazid al Ansori, S.Sy, M.Pd.

Kaprodi KPI STAIAN Purworejo

 



SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini