Senin, 25 Jan 2021,


taat-prokes-keraton-gelar-garebeg-mulud-tanpa-gununganPara abdi dalem membawa uba rampe Garebeg Mulud yang dikirim ke Kepatihan dan Pura Pakualaman, Kamis (29/10/2020). (yvesta putu ayu/koranbernas.id)


Yvesta Putu Ayu Palupi

Taat Prokes, Keraton Gelar Garebeg Mulud Tanpa Gunungan


SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Ada yang berbeda dari Hajad Dalem Garebeg Mulud tahun ini. Jika biasanya keraton Yogyakarta membuat gunungan yang jadi rayahan atau diperebutkan masyarakat sebagai simbol ngalap berkah atau mencari berkah, maka di masa pandemi Covid-19 ini keraton sengaja meniadakan pembuatan gunungan untuk mematuhi protokol kesehatan (prokes) Covid-19.

Keraton menggantinya dengan uba rampe rengginan. Uba rampe ini khusus diberikan bagi sekitar 3.000 abdi dalem. Selain itu juga dibagikan ke Kepatihan serta Pura Pakualaman.

"Garebeg Maulud digelar dengan format yang disesuaikan dengan kondisi pandemi," ujar Penghageng KHP Kridhamardawa Keraton Yogyakarta, KPH Notonegoro, di keraton Yogyakarta, Kamis (29/10/2020).

Menurut Notonegoro, garebeg yang digelar terbatas ini untuk mengantisipasi kerumunan. Sebab selama ini banyak masyarakat, termasuk wisatawan, yang sengaja berebut gunungan untuk ngalap berkah.

Meski tidak ada gunungan, esensi dari garebeg tidaklah hilang. Uba rampe Garebeg dalam filosofinya juga merupakan sedekah raja, namun di masa pandemi ini diberikan secara terbatas.

Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan HB X, tetap membagikan udhik-udhik atau sedekah raja berupa uang logam, beras, dan bunga. Namun sedekah ini hanya diberikan pada abdi dalem dan sudah dibungkus satu-satu.

"Sejak awal kami menyatakan garebeg tidak dibuka untuk umum dan tidak dilakukan seperti biasanya. Namun hal ini tidak mengurangi esensi karena tetap ada," jelasnya. (*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini