Tahun Politik Tak Pengaruhi Pariwisata DIY

95

KORANBERNAS.ID – Dunia pariwisata DIY boleh, dalam tanda kutip, menepuk dada. Sektor inilah yang berani memastikan tidak bakal terpengaruh oleh hiruk pikuk politik di tahun 2018 yang disepakati sebagai Tahun Politik.

Dinas Pariwisata DIY bahkan berani menargetkan kenaikan wisatawan mananegara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wisnus) sebesar 10 sampai 15 persen pada tahun 2018 ini.

“Tahun 2018 sebagai Tahun Politik, namun kita optimistis bisa mencapai kenaikan target 10-15 persen,” tandas Aris Riyanta,  Kepala Dinas Pariwisata DIY, pada acara diskusi Forum Wartawan DPRD DIY, beberapa waktu lalu.

Menurut Aris, kepariwistaaaan DIY dari waktu ke waktu selalu meningkat. Jika dilihat dari daftar kunjungan wisatawan ke DIY kurun waktu 2012-2016, jumlah wisman dan wisnus selalu naik.

“Melihat dari meningkatnya infrastruktur jalan dan jembatan serta aksesibilitas Bandara Internasional Adisutjipto yang operasionalnya sampai pukul 24:00, kita optimistis. Tidak ada yang menghambat. Tidak ada pengurangan,” kata Aris.

Dunia pariwisata DIY, lanjut Aris, memang diuntungkan dengan kemudahan akses transportasi, termasuk kereta api (KA) serta bus. Sedangkan dari sisi amenities, hotel di Jogja cukup lengkap temasuk punya homestay tidak tidak kurang 1.500 unit dengan total jumlah kamar mencapai 3.500.

Dari segi atraksi alam dan budaya maupun atraksi buatan, DIY punya 125 desa/kampung wisata yang tersebar di seluruh kabupaten/kota. “Desa wisata itu punya selling point yang unik,” ujarnya.

Sedangkan dari aspek keamanan dan kenyamanan, terbukti Jogja aman dan nyaman. Jika ditarik ke belakang di tahun 2017, kepariwisataan DIY sudah on the track. Indikator-indikator keberasilan sektor pariwisata sudah terlihat dan target 2017 sudah terpenuhi.

Sebagai gambaran, pada 2012-2016 jumlah wisman ke DIY selalu naik. Sampai saat ini urutan pertama terbanyak masih dari Belanda. Baru kemudian disusul Malaysia, Jepang, Amerika Serikat,  Singapura, Prancis, Jerman,  China,  Korea. Memang terjadi tren penurunan turis asal Jepang dan itu terjadi secara nasional.

Sedangkan pergerakan wisnus terbanyak dan terbesar ke DIY berasal dari DKI Jakarta, disusul DIY sendiri, kemudian dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali,  Banten,  Kaltim, Papua, dan Sumatera Utara.

Baca Juga :  Pelantikan Gubernur DIY Harus “Temata”

Mudah dijangkau

Menurut Aris, salah satu keuntungan pariwisata DIY adalah wilayahnya relatif kecil sehingga bisa dengan mudah dijangkau. Hal ini membawa konsekuensi lama tinggal wisatawan atau length of stay rata-rata masih kurang dari dua hari.

Sedangkan destinasi wisata favorit adalah Pantai Parangtritis disusul kemudian Candi Prambanan, Pantai Baron, Gembira Loka Zoo, Taman Pintar, Kaliurang, Keraton, Tamansari. Rata-rata wisatawan datang ke Jogja dengan alasan biaya hidup relatif murah.

Adapun target kunjungan wisatawan ke DIY tahun 2018 adalah 4 juta. Tahun 2017 sebesar 3,1 juta. “Mudah-mudahan kondisinya bagus dan askes jalan yang rusak akibat badai Cempaka bisa segera normal kembali,” katanya.

Dalam rangka menyambut wisatawan, Aris menegaskan perlunya kelompok sadar wisata (pokdarwis) serta masyarakat menggelorakan sadar wisata serta Sapta Pesona.

“Berikan layanan yang baik supaya tidak mengecewakan wisatawan adalah faktor kuncinya. Layanan, attitude, knowledge dan skill semua orang sama. Yang paling penting justru tidak bohong dan suka membantu. Orang pintar sekarang ini banyak. Tapi pinter kalau suka menipu nggak dipakai,” ujarnya.

Fungsi Koordinasi

Wakil Ketua DPRD DIY yang juga Koordinator Komisi B yang salah satunya membidangi pariwisata, Rany Widayati, menyatakan perlunya Dinas Pariwisata DIY melaksanakan fungsi koordinasi dalam upaya meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor kepariwisataan.

Berkaitan dengan 2018 sebagai tahun politik menuju 2019, menurut dia, tidak ada salahnya Pemda DIY perlu melakukan pembenahan di sektor ini. Artinya, perlu dibuat paket-paket yang berdampak pada penambahan lama tinggal wisatawan atau length of stay lebih panjang lagi.

Sebagai daerah tujuan wisata utama di Indonesia, kata anggota DPRD DIY dari Fraksi Partai Golkar  (FPG) ini, satu-satunya pesaing DIY adalah Bali. Ini karena kedua daerah ini sama-sama mengunggulkan kekuatan budaya.

Di sinilah pentingnya Dinas Pariwisata DIY menangkap peluang tersebut, misalnya dengan memperbanyak event. Dan yang tidak boleh dilupakan adalah memperkuat desa wisata dengan segala kelengkapannya yaitu kuliner dan adat istiadat. Bahkan desa wisata inilah yang kini menjadi kekuatan pariwisata DIY.

Menurut Rany, Dinas Pariwisata DIY juga perlu berkoordinasi dengan kabupaten/kota maupun para pelaku wisata termasuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis) untuk mengemas paket-paket wisata yang menarik wisatawan asing maupun nusantara berkunjung ke desa wisata.

Baca Juga :  Gemuruh Sampai Kota, Status Merapi Waspada

Misalnya, paket menanam padi  dibuat menyeluruh mulai dari menanam hingga panen kemudian diolah menjadi makanan sehingga wistawan kembali lagi.

Dengan begitu keberadaan homestay-homestay di desa wisata terisi sehingga memberikan penghasilan bagi warga maupun kelompok sadar wisata (pokdarwis). Apalagi, desa wisata lahir yang kini tumbuh di daerah-daerah lain, ide awalnya berasal dari DIY.

Menurut Rany Widayati, kekuatan pariwisata DIY juga tidak lepas dari unsur edukasi. Bagi Dinas Pariwisata DIY, inilah peran yang mesti dilakukan melalui edukasi kepada pokdarwis.

Sedangkan berkaca dari sejumlah kekurangan di tahun 2017, DPRD DIY mendorong perlu dilakukan pembenahan serta perubahan dengan memfokuskan keunggulan-keunggulan desa wisata dan kampung wisata. Pokdarwis maupun pengelola desa wisata secara mandiri perlu bergerak dan bergotong royong memajukan obyek wisata yang dikelolanya.

Kemudian, pemerintah tinggal menindaklanjutinya dengan memberikan dukungan dalam bentuk sentuhan-sentuhan program.

“Salah satu keunggulan pariwisata DIY adalah destinasi wisata dikelola oleh masyarakat. Konsep ini tidak ada di daerah lain,” kata Rany.

Jangan sampai ada kesan destinasi wisata di DIY hanya itu-itu saja, berkutat di sekitar wilayah keraton. Soal length of stay, dia menyatakan perlu dipikirkan membuat paket wisata malam sebagai hiburan wisman di malam hari.

Tentu saja, hiburan malam itu tetap berada di bawah kontrol Dinas Pariwisata DIY supaya tidak melenceng dari predikat Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan. Mungkin bisa dibuat suatu kawasan tersendiri untuk wisman namun tetap dengan pengawasan ketat.

Menatap pariwisata DIY ke depan, pada 2018 ini DPRD DIY melalui kewenangan dan kebijakannya di bidang anggaran, sudah memberikan banyak kesempatan kepada Dinas Pariwisata DIY. Antara lain melalui kegiatan dan program pelatihan Pokdarwis, Sapta Pesona maupun Sadar Wisata.

Bagaimana pun pariwisata tidak bisa ditangani sendiri oleh satu dinas. Artinya, Dinas Pariwisata DIY didorong bersinergi dengan Dinas Kebudayaan agar bisa menciptakan paket wisata terbarukan dan tentu saja memuat unsur edukasi. (sol)