Tempat Ibadah Jangan Jadi Ajang Kampanye

124

KORANBERNAS.ID — Memasuki tahun politik, berbagai lokasi dijadikan sebagai tempat kampanye. Bahkan ada pihak-pihak tertentu yang menggunakan tempat ibadah sebagai lokasi kampanye dibungkus dengan kegiatan keagamaan.

Sayangnya, tak jarang ceramah keagamaan di tempat ibadah itu menjadi ajang menyerang pihak lawan politik dengan informasi yang belum pasti kebenarannya.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) GP Ansor pusat, KH Ulil Archam,  mengatakan tempat ibadah seperti masjid bukan sarana kepentingan politik praktis.

Masjid merupakan tempat beribadah untuk menyampaikan dam mengajak kebaikan, bukan digunakan sebagai tempat kampanye.

“Fungsikan sesuatu sebagaimana mestinya, termasuk tempat ibadah. Dan ceramah di masjid bukan media menyerang orang lain, apalagi lawan politik,” kata pria asli Purbalingga ini, Minggu (25/03/2018).

Baca Juga :  Pasca-teror Bedog Pengamanan Tempat Ibadah Ditingkatkan

Dia mengakui, orang akan lebih mudah berkumpul di masjid karena ada dorongan masing-masing individu untuk beribadah.

Momentum itu dijadikan media berkampanye. Namun sayangnya, momentum itu pula yang dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk tujuan politik praktis, termasuk menyerang  pihak lain.

Tapi, lanjut Gus Ulil, apabila isi ceramah di masjid untuk mengajak umat berpartisipasi dalam pemilu atau pilkada tentu diperolehkan.

Kewajiban masyarakat adalah mendukung program pemerintah. Pemilu atau pilkada merupakan perangkat negara karena dari situ akan terpilih wakil rakyat dan pemimpin.

“Di mana pun termasuk di tempat ibadah tidak masalah digunakan untuk mengajak umat menyukseskan kegiatan tersebut. Yang terpenting tidak ada arahan pada personal,” katanya.

Baca Juga :  Ini Keunggulan Ketela Gatotkaca, Varietas Baru dari Gudang Gaplek  

Koordinator Gusdurian Kabupaten Purbalingga, KH Basyir Fadlulloh, menambahkan di tahun politik tempat ibadah bisa menjadi lokasi masuknya kepentingan politik praktis.

Hal ini karena, pemuka agama dinilai memiliki kemampuan memengaruhi jamaah untuk memilih salah seorang calon pemimpin.

“Masjid merupakan tempat ibadah. Jangan sampai dikotori kegiatan bermuatan politik praktis apalagi yang dikemas dalam kegiatan agama,” kata dia.

Jamaah juga harus bisa berpikir dengan kepala dingin terhadap ceramah yang disampaikan pemuka agama. “Apakah bermuatan politis atau tidak,” kata pengasuh Ponpes Minhajut Tholabah Kembangan Bukateja Purbalingga ini. (sol)