Sabtu, 27 Nov 2021,


tetap-berkreasi-walau-kondisi-tak-pastigrup Dolalak, menjelang pementasan. (istimewa)


Wahyu Nur Asmani EW
Tetap Berkreasi Walau Kondisi Tak Pasti

SHARE

KORAN BERNAS.ID, PURWOREJO--Sanggar Tari Prigel merupakan sanggar tari legendaris di Purworejo. Pengelolanya saat ini, merupakan generasi kedua. Generasi pertama dipimpin oleh Untari seorang murid dari Sanggar Seni Bagong Kusudiarjo. Dulu, Untari membuka latihan setiap hari Minggu di teras Kantor Bupati (yang akrab dengan istilah otonom). Maklum, selain sebagai pemimpin sanggar tari, Untari juga seorang PNS di Pemerintahan Kabupaten Purworejo.


Minggu (27/09/2020) koranbernas.id berhasil menemui pemimpin Sanggar Tari Prigel yang baru, Melania Sinaring Putri.

  • Ganjar Pranowo Mengapresiasi Anak Muda yang Geluti Usaha Meski Pandemi
  • Kala Seniman Merindukan Panggung

  • Estafet kepimpinan di sanggar tersebut telah dipersiapkan matang. Nia (sapaan akrab dari Melania Sinaring Putri) setelah lulus SMA langsung melanjutkan ke ISI Yogyakarta dengan jurusan koreografi tari. Semua atas arahan dari sang ibu.

    Di bawah kepimpinan Nia, Sanggar Tari Prigel mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Tempat latihan tidak lagi di teras kantor bupati, tetapi pindah di Pendopo Kabupaten Purworejo yang lebih luas.

  • Penyanyi Kondang Campursari Alih Profesi Buka Warung Angkringan Jualan Thiwul
  • Mencoba Berkreasi Meski Dalam Keterbatasan

  • “Sebelum pandemi kami memiliki siswa sekitar 250 orang yang latihan setiap hari Minggu mulai pukul 08.00 hingga pukul 15.00 WIB. Semua ada 7 kelas. Untuk mengajar siswa sebanyak itu, kami dibantu dengan 6 orang pelatih,” kata Nia menjelaskan.

    Adapun kelas dibuka berdasar lamanya siswa dalam belajar menari.

    “Siswa baru akan kami kelompokkan sendiri. Kelas siswa yang lama juga disesuaikan dengan waktu latihan yang ditempuh masing-masing siswa,”terang Nia.

    Jenis tari yang diajarkan meliputi tari kreasi baru, tari klasik, tari Dolalak dan tari garapan.

    “Walaupun pandemi, kita tetap melayani tari garapan,” jelas Nia.

    Selama ini Sanggar Tari Prigel tak pernah sepi order. Sanggar ini kerap mengisi acara-acara yang diselenggarakan Pemkab Purworejo. Namun, selama pandemi Covid-19, order menjadi sepi.

    “Selama pandemik, latihan diliburkan. Kami belum berani untuk latihan menari secara tatap muka. Sedangkan latihan secara virtual kami rasa tidak efektif. Kami hanya mengikuti pementasan virtual,” jelas Melania.

    Dia menuturkan, 3 bulan pertama masa pandemi, pihaknya membuat sistem untuk latihan secara langsung. Konsep ini kemudian dikonsultasikan dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Karena terlalu berisiko, dinas belum memperbolehkan. Terlebih siswa tari didominasi siswa sekolah dasar.

    Namun di tengah-tengah pandemi, Sanggar Tari Prigel masih berkesempatan melakukan pementasan pada 14 September lalu di Solo Jawa Tengah. Pementasan tersebut bertajuk Pagelaran Tari Tradisional Jateng. Dalam kesempatan itu, pihaknya membawakan tarian andalan yang dimiliki Sanggar Tari Prigel yaitu Tari Dolalak Lentera Jawa II.

    Tarian tersebut digarap pada tahun 2014, dengan nama Tari Dolalak Lentera Jawa I. Dalam perjalanannya, tarian telah mengalami penyempurnaan, kemudian diganti nama Tari Dolalak Lentera Jawa II.

    “Untuk sekarang, yang kami pergunakan adalah Tari Dolalak Lentera Jawa II. Tari tersebut merupakan andalan, karena menjadi tari khas Purworejo,” terang wanita yang bergelar Sarjana Seni (S.Sn).

    Selain di Purworejo dan luar daerah, Tari Dolalak Lentera Jawa II juga sempat menjalani pementasan di manca negara. Antara lain di Swedia dan Malaysia. Sedangkan untuk di dalam negeri, tarian ini sudah melalang kota, termasuk di Jakarta, Semarang, Solo, Magelang dan Yogyakarta.

    Pagelaran Tari Seni Tradisi Jawa Tengah yang diselenggarakan di Balai Budaya Surakarta (Solo), berlangsung 14 hingga 18 September 2020.

    “Dalam pementasan di Solo, kami membawa rombongan sebanyak 26 orang sebagai penari dan pemusik,” tutur Nia.

    Sebagai persiapan pementasan, sanggar tetap melakukan latihan seperti biasa, namun mengacu pada protokol kesehatan yang ketat.

    “Saat pementasan, pemusik wajib menggunakan masker. Namun penari tidak. Ketentuan bagi penari sebelum dan sudah pentas baru wajib mengenakan masker. Ketentuan dari panitia, penari yang tampil harus penari dewasa dan remaja. Sedangkan yang anak-anak tidak diizinkan,” beber Nia.

    Nia sangat menyayangkan, selama pendemi Covid-19 frekwensi pementasan sangat berkurang. Otomatis pendapatan para penari menurun, dan aktifitas lainnya seperti latihan rutin jadi berkurang.

    Dengan penurunan pendapatan, berdampak sekali untuk nafas sanggar dan para pekerja seni di Sanggar Tari Prigel. Melania berharap, pandemi segera berlalu, sehingga aktivitas sanggar bisa berjalan normal.

    Sepinya order pementasan, juga dialami Sanggar Tari Dolalak Putri Arum Sari di Desa Brenggong Kecamatan dan Kabupaten Purworejo. Sanggar ini memiliki anggota sebanyak 25 orang, terdiri 10 dari orang penari dan 15 orang pengrawit serta vokalis.

    Sebelum pandemi, grup ini cukup padat dengan jadwal pentas. Namun mulai pandemi Maret 2020, sanggar yang dipimpin Eny Arum Sari sepi order.

    “Tapi kami tetap latihan. Kami selalu menghafal tarian yang sudah ada dan menggarap tarian yang baru, serta menggarap atau mengolah musiknya. Semua untuk menjaga semangat dan agar tidak lupa dengan gerakan,” jelas Eni.

    Eni tak menampik jika pandemi Covid-19 sangat berdampak di keluarga Sanggar Tari Dolalak Putri Arum Sari. Karena selama pandemi tidak ada job pementasan, otomatis penghasilan menurun.

    “Sebelum pandemi Covid, almdulilah job kita lancar. Sehingga dengan job itu bisa menambah penghasilan ekonomi keluarga. Dan dari job pentas itu, disamping bisa menghibur masyarakat, kita bisa mengembangkan diri serta melestarikan kesenian kas Purworejo. Juga menambah pengalaman dan tambah saudara,” lanjutnya.

    Sepinya dunia panggung, juga ikut mempengaruhi bisnis perangkat pendukung pentas seperti sound system dan orgen tunggal.

    Pemilik Mentari Musik Sanggar dan Pemandu Bakat, Dwi Suryanto yang membuka usahanya di Desa Kledung Kradenen RT 01/RW 04 Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo merasakan hal ini.

    Dwi menuturkan, mulai pandemi Covid-19 bulan Maret sampai dengan Juni tahun 2020, hampir semua job berhenti.

    “Tapi mulai Juli 2020, beberapa kecamatan memberikan izin untuk penyelenggaraan hajatan. Sehingga kawan-kawan bisa mulai beraktivitas,” jelas Dwi.

    “Dulu sebelum pandemi, banyak konsumen yang sudah memesan untuk tanggapan. Bahkan sebagian besar sudah membayar uang muka. Tapi kemudian order dibatalkan semua, karena pandemi Covid-19. Bahkan yang dulu pernah pesan job dan bahkan sudah membayar panjar, kok ya belum pesan lagi," tanya Edi.

    Sepinya order di panggung hiburan masih disyukuri oleh Dwi Suryono yang juga berprofesi sebagai guru musik di SMP Negeri 4 Purworejo.

    “Saya menerima job kalau pas libur. Kegiatan lainnya di rumah Dwi juga buka les musik. Sudah 1 bulan ini, sanggar kami aktif lagi,” imbuh Dwi Suryana. (*)



    SHARE



    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini