atas1

Tetes Air Mata Diponegoro Saat Peluk Kiai Mojo
Pameran Sastra Rupa Gambar Babad Diponegoro di Jogja Gallery

Sabtu, 02 Feb 2019 | 01:14:23 WIB, Dilihat 2273 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Tetes Air Mata Diponegoro Saat Peluk Kiai Mojo Salah satu karya yang dipamerkan pada Pameran Sastra Rupa Gambar Babad Diponegoro di Jogja Gallery. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Baca Juga : Masih Ada Sertifikat Tanah Belum Diserahkan


KORANBERNAS – Disaksikan oleh para ulama, tergambar sosok Pangeran Diponegoro bersalaman dan berpelukan dengan Kiai Mojo sambil meneteskan air mata. Itulah pertemuan terakhir Diponegoro dengan Kiai Mojo karena setelah itu Kiai Mojo dijebak di Klaten.

Gambaran mengenai salah satu babak sejarah Perang Diponegoro tersebut berhasil diangkat menjadi karya seni rupa oleh pelukis Bambang Sudarto, yang dipamerkan di Jogja Gallery Jalan Pekapalan No 7 Alun-Alun Utara Yogyakarta.

Pameran Sastra Rupa Gambar Babad Diponegoro ini digelar oleh Jogja Gallery bersama Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patrapadi). Pembukaan dilakukan Jumat (01/2/2019) malam oleh pecinta seni Moetaryanto Poerwoaminoto AO.

Dengan kurator Dr Mikke Susanto MA serta Dr Sri Margana M Phil, pameran dapat disaksikan setiap hari mulai pukul 09:00 hingga 21:00 dan berlangsung sampai 24 Februari mendatang.

Bambang Sudarto, pelukis alumnus STSRI “ASRI” Yogyakarta kelahiran Sakapura Probolinggo 63 tahun silam itu, berhasil menggambarkan suasana batin para pelaku sejarah masa lalu berdasarkan narasi Pupuh XXXV (Dhandhanggula).

Gambaran itu diangkat dari naskah kuno Babad  Diponegoro yang menceritakan kisah hidup Pangeran Diponegoro (1785-1855).

Pengunjung mengamati lukisan yang menggambarkan Pangeran Diponegoro menunggang kuda. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Kyahi Maja nulya hatur bekti jawab hasta lawan Sri Nalendra, hesmu kumembeng wespane, hanglir wekasan pangguh, Khaji lawan kang prangulami sedaya pan mengkana, marma datan dangu, Sang Nata hangres kang driya, duk tumingal dhumateng Ki Maja hiki, kadya karsaning sukma.

Berdasarkan catatan sejarah, perang Diponegoro memang hanya berlangsung lima tahun (1825-1830) namun faktanya mampu membuat negeri Belanda bangkrut.

Kepada wartawan di sela-sela pembukaan pameran, Direktur Jogja Gallery KRMT Indro Kimpling Suseno menyampaikan, di luar dugaan pameran kali ini memperoleh respons luar biasa dari beragam kalangan termasuk jajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Selain sebagai sarana pembelajaran ilmu sejarah bangsa, juga membuat kalangan dosen ilmu seni rupa maupun masyarakat semakin yakin ternyata seni rupa mampu berbicara lebih banyak dibandingkan kata-kata. “Gambar-gambar ini lebih berbicara,” kata dia.

Mikke Susanto menambahkan, awalnya panitia memilih 100 perupa kemudian disaring lagi menjadi 50. Sebagian dari mereka adalah Agus Triyanto BR, Astuti Kusumo, Bambang Nurdiansah, Camelia Hasibuan, Cipto Purnomo, Dadi Setiyadi, Deddy PAW, Djoko "Timun Mursabdo, Dyan Anggraini.

Kemudian, Eddy Sulistyo, Edy Maesar, Edwin Istopi Raharjo, Enka Komariah, F Sigit Santoso, Galuh Tajimalela, Hadi Soesanto, Haris Purnomo, Heru "Dodot" Widodo, Isur Suroso, Januri, Joko Sulistiyono, Joseph Wiyono, Laila Tifah, Laksmi Sitaresmi, M Aidi Yupri serta Mahdi Abdullah.

Lukisan yang menceritakan masa muda Pangeran Diponegoro. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Karya-karya mereka itulah yang selanjutnya dipamerkan sehingga tercipta semacam autobiografi Diponegoro mulai dari kecil sampai hidup di pengasingan.

Setiap pelukis melukis satu adegan. Artinya, terdapat 50 adegan mulai dari Diponegoro berumur 5 hari sampai ditangkap dan diasingkan. “50 karya ini merupakan seri pertama,” jelasnya.

Dari pameran itu pula masyarakat memperoleh gambaran mengenai sosok Pangeran Diponegoro ketika tidak mengenakan baju perang atau ketika sedang menyamar.

Hanya saja Mikke mengakui, adegan-adegan yang digambarkan melalui karya lukis berbeda dengan komik.

Gambaran mengenai sosok Diponegoro didasarkan pada satu foto saat ditahan di Batavia. Kondisinya sedang sakit dan mengenakan surban.

Pemilihan seniman pun dilakukan tidak main-main. “Kami memilih pelukis profesional, punya gagasan yang gampang dicerna, mampu menekan egonya serta harus mengenal budaya Jawa,” terangnya.

Mikke Susanto mengatakan, setelah berdiskusi bersama, masing-masing seniman kemudian melakukan riset sebelum memulai membuat karya lukisan.

Proses ini dimulai sejak September 2018. “Melukis dimulai Desember. Jadi selama tiga bulan. Januari awal sudah harus dikumpulkan,” ujarnya.

Namanya juga seniman, kadang-kadang ego mereka sulit ditekan. Sering pula ide nakal bahkan ide liar muncul tiba-tiba.

Di antara puluhan karya yang dipamerkan, terdapat satu karya lukis menggambarkan sosok pemuda mengenakan sarung, berdiri tanpa alas kaki, tangan kiri memegang keris, tangan kanan mengacungkan jari. Begitu diamati, mirip Jokowi. (sol)



Jumat, 01 Feb 2019, 01:14:23 WIB Oleh : Masal Gurusinga 593 View
Masih Ada Sertifikat Tanah Belum Diserahkan
Jumat, 01 Feb 2019, 01:14:23 WIB Oleh : Prasetiyo 810 View
Tiket KA Prameks Dapat Dipesan Melalui KAI Access
Jumat, 01 Feb 2019, 01:14:23 WIB Oleh : Nila Jalasutra 400 View
KPU Sleman Hibahkan 1.230 Kotak Suara

Tuliskan Komentar