tidak-ada-regenerasi-kejayaan-musik-jogja-berhenti-di-era-sheila-on-7Sheila on 7 tampil di Jogja VW Festival di Candi Prambanan, Minggu (10/7/2022). (muhammad zukhronnee/koranbernas.id)


Muhammad Zukhronnee Muslim
Tidak Ada Regenerasi, Kejayaan Musik Jogja Berhenti di Era Sheila on 7

SHARE

KORANBERNAS.ID,YOGYAKARTA -  Kejayaan musik Yogyakarta pada era 90 an saat ini seolah sudah selesai pada Sheila on 7, Jikustik, Shaggy Dog dan Endank Soekamti, setelah itu tidak lagi terdengar gaung grup band baru yang benar-benar kuat dan mempunyai ciri untuk bisa dibanggakan.


"Jika berbincang dengan sesama musisi di daerah, Siapa sih band asal Kota Gudeg ini yang mereka ingat, tidak dipungkiri, ya Sheila on 7," ujar Momo vokalis Zima (Dulu Captain Jack-red) usai konferensi pers perhelatan konser musik Bangsa Pemberani, Senin (18/7/2022) di The Ratan, Bantul, Yogyakarta.


"Jogja sekarang lagi dalam situasi masalah yang multikompleks, kalau kita lihat klithih sekarang dan segala macam itu bukan tanpa sebab. Yang paling simpel sekarang tingkat pendapatan di Jogja yang rendah adalah salah satunya,"

Anak-anak muda, lanjut Momo, itu sudah mulai kehilangan figur-figur yang mereka anggap idealis. Rata-rata musik anak-anak muda sekarang yang mereka dengarkan itu hanya sekedar tentang bagaimana cari jodoh, bagaimana berpasangan dan sejenisnya. Padahal musik bisa menjadi indikator atau penanda keadaan sebuah zaman.


"Tidak ada figur-figur yang bisa memberikan mereka pemikiran, yang punya idealisme. Jadi kalau kita ngomong ruang, ini mungkin hanya salah satu masalah. Bahwa anak muda Jogja memang butuh banget lebih banyak ruang untuk berekspresi, dan akhirnya mereka sibuk dengan ruangan tersebut pada akhirnya mungkin ini bisa jadi satu pembantu-pembantu untuk menyelesaikan masalah, klithih misalnya, terutama apapun yang berhubungan dengan youth culture," paparnya.

"Akhirnya masalah sosial juga berdampak, seperti tadi aku bilang bahwa musik adalah indikator. Apapun yang terjadi di musik, di seni itu adalah cerminan anak-anak muda sekarang, mereka sedang berpikiran seperti apa," lanjutnya.

Momo melanjutkan, Musik dan seni sebagai tempat pelampiasan mereka saat ada masalah tidak berjalan dengan baik. Kreatifitas pun tidak berjalan dengan baik, pengaruh media sosial mungkin tidak mengarahkan generasi sekarang menjadi kreatif. Berkurangnya "srawung" membuat mereka banyak yang kemudian hanya menjadi peniru,  bagi Jogja ini merupakan hal yang cukup mengkhawatirkan.

"Aku tidak bilang meng-cover itu sesuatu yang jelek ya, mungkin ini jadi jelek ketika ternyata kasus-kasus kemarin yang terjadi adalah banyak sekali yang mengcover tanpa ada izin, tanpa mengerti tentang ada berbagai macam hak dan kewajiban yang harus mereka penuhi," kata pemuda kelahiran Kota Khatulistiwa ini.

Cover itu sah-sah saja, lanjut Momo, tetapi ketika apapun dalam sebuah ekosistem ketika sesuatu itu jadi terlalu besar, akhirnya ini memberikan value yang buruk bagi ekosistem itu sendiri.

Regenerasi musisi di Jogja kurang berjalan dengan baik, Tidak seperti Bandung atau Jakarta regenerasi disana berjalan dengan sehat. Karena senior masih mau srawung dan berbagi dengan junior. Momo menyayangkan, seharusnya musisi-musisi yang sudah settle ini merasa bertanggungjawab pula kepada Jogja yang telah membesarkan nama mereka.

Menyinggung ruang bagi anak muda Jogja, Ari "Popo" Prabowo, gitaris grup band Something Wrong menambahkan, remaja saat ini butuh ruang ekpresi yang benar. Konser musik rock bisa menjadi salah satunya.

"Kelebihan energi remaja Jogja ini bisa dikeluarkan semua saat menonton musik rock, dengan demikian setelah selesai, capek, pulang, tinggal istirahat di rumah,  besok sekolah. Tidak ada sisa energi yang disalurkan kepada hal-hal tidak jelas dijalanan," kata dia.(*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini