Tragis, Usai Salat Subuh Lansia Gantung Diri Gunakan Mukena

109

KORANBERNAS.ID — Kasus bunuh diri kembali terjadi di Gunungkidul. Kejadian ini bisa dibilang tragis, karena tindakan bunuh diri itu dilakukan oleh wanita lanjut usia (lansia)  usai menjalankan salat Subuh. Bahkan tali gantungan yang digunakan adalah mukena.

Inilah yang dilakukan Ny Lagiyem (70) warga Dusun Gading II RT 07  RW 02 Desa Gading Kecamatan Playen Gunungkidul, Selasa (13/2/2018).

Kapolsek Playen, AKP Yusuf Tianotak, menjelaskan korban pertama kali ditemukan oleh putrinya, Jumini (40) sekitar pukul 06:00.

Saat itu, saksi menuju dapur melihat kamar ibunya ada bayangan tergantung. Penasaran, ia pun langsung masuk dan didapati korban sudah meninggal dunia dalam posisi menggantung. “Korban ditemukan meninggal masih menggunakan mukena,” katanya saat dihubungi.

Baca Juga :  Mantan Kadindik Ini Kembali Tersangka Korupsi

Dengan masalah ini Jumini langsung meminta pertolongan warga sekitar. Sejumlah anggota Polsek Playen bersama petugas medis datang ke lokasi kejadian. Petugas segera mengevakuasi korban dan melakukan pemeriksaan medis.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan di tubuh korban. Polisi memperkirakan korban melakukan aksinya usai menjalankan ibadah salat Subuh.

Dari keterangan keluarga, korban selama ini menderita penyakit sesak nafas yang tak kunjung sembuh, diduga faktor inilah yang menjadi penyebab korban nekat bunuh diri.

Sebelumnya, LSM Imaji yang fokus dalam kesehatan jiwa mendorong semua pihak untuk bergerak. Sebab, kasus bunuh diri erat kaitannya dengan kasus kesehatan jiwa.

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul perlu memberikan perlindungan kepada masyarakat dengan memahami peristiwa bunuh diri sebagai isu permasalahan kesehatan jiwa masyarakat dalam cara pandang dan kebijakan organisasi.

Baca Juga :  Siswa Tak Mampu Jangan Dibebani Sumbangan Apapun

“Mari menjadi lembaga melawan stigma (pandangan dan cap buruk) masalah bunuh diri dan kesehatan jiwa, dan mari tingkatkan jangkauan dan kapasitas layanan kesehatan jiwa sampai dengan tingkat Puskesmas, rumah sakit hingga balai pengobatan swasta di seluruh wilayah Kabupaten Gunungkidul,” kata Joko Yanu Widiasta, Ketua LSM Imaji.

Untuk masyarakat umum, tokoh masyarakat, tokoh agama, budayawan, pendidik, dan media-massa, pihaknya mengajak memahami peristiwa bunuh diri sebagai peristiwa kemanusiaan yang terkait erat dengan kondisi kesehatan jiwa masyarakat. (sol)