Warga Penolak Bandara Segera Pindah

PT Angkasa Pura Peroleh Dukungan untuk Lakukan Eksekusi

495
Bupati Kulonprogo dan jajaran PT AP serta Forkominda meninjua lokasi rumah kontrakan. (sri widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Pemindahan terhadap beberapa warga penolak bandara yang masih bertahan di dalam wilayah IPL segera akan dilakukan.

Rabu (13/06/2018) Dirut PT Angkasa Pura I, Faik Fahmi,  didampingi Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo bersama  Kapolres AKBP Anggara Nasution, Dandim Letkol Inf Dodit Susanto, meninjau rumah-rumah yang dikontrak untuk merelokasi warga tersebut.

Faik Fahmi menjelaskan PT Angkasa Pura I menyiapkan 20 rumah kontrakan. Lokasi rumah disesuaikan dengan lokasi warga sebelumnya.

Saat ini masih 31 rumah dihuni 37 keluarga yang bertahan di dalam IPL NYIA. Pemindahan warga dilakukan setelah Lebaran nanti. Menurutnya, upaya pengosongan lahan dan pembangunan bandara sudah tidak bisa mundur lagi.

“Sudah tidak ada waktu lagi untuk mundur. Bahkan kemarin sempat ada yang demo mempertanyakan kok tidak segera dieksekusi. Saya juga banyak mendapat dukungan agar segera dilakukan proses (pembangunan),” ujar Faik di sela-sela melakukan pengecekan rumah kontrakan di Pedukuhan Desa Glagah Temon.

Baca Juga :  RS PKU Bagikan Paket Obat untuk Pemudik

Rumah dikontrakkan selama tiga bulan dan bila kurang bisa ditambah jumlahnya serta waktunya juga bisa fleksibel. “Dalam relokasi niat kami bukan menggusur tetapi memindahkan ke tempat yang layak dan cukup representatif dan benar-benar membuat mereka nyaman,” tuturnya.

Awalnya rencana pemindahan menjelang bulan Ramadan. Namun dengan berbagai pertimbangan diundur waktunya dan dipastikan tidak ada lagi pengunduran waktu.

“Yang jelas setelah Lebaran, tapi kapan nanti kita perlu koordinasi lagi. Ini semua dalam satu koordinasi dengan seluruh pihak terkait,” katanya.

Untuk memindahkan warga, upaya persuasif masih terus dilakukan dan diharapkan sikap warga semakin melunak. Pembangunan bandara bandara di Kulonprogo bertujuan baik untuk mensejahterakan masyarakat, sehingga pihaknya juga memastikan cara-cara yang dilakukan juga harus dengan cara yang baik.

Baca Juga :  Jalur Semarang-Solo Macet Total

“Sebenarnya  bandara yang se-level Kulonprogo seharusnya sudah dibangun di Yogyakarta 10 tahun lalu, karena termasuk yang paling tertinggal dibanding tempat lain. Saya kira ini waktunya Yogyakarta membangun bandara yang lebih baik lagi. Bisa menampung penumpang yang lebih besar lagi, sehingga DIY lebih istimewa dengan adanya bandara Kulonprogo,” katanya.

Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo menjelaskan, PT Angkasa Pura bersama pemerintah daerah menyiapkan sebaik-baiknya pengosongan lahan agar tidak ada upaya paksa.

Pihaknya juga berupaya memetakan detail satu per satu dari 37 keluarga apa problemnya dan strategi pemindahannya seperti apa.

Pembersihan lahan sudah menjadi keniscayaan, tidak bisa tidak, yang harus dikerjakan dalam waktu dekat. “Sengaja hari ini ngecek rumah-rumah yang akan dihuni agar kita betul-betul bisa memanusiakan warga. Agar tidak ada warga telantar disiapkan tempat dan rumah yang layak,”  ujar Hasto. (sol)